Posted in

Poopmaxxing’ hingga Diet Coke Protein: 4 Tren Kesehatan Juni 2026 dan Ironi di Baliknya

Poopmaxxing' hingga Diet Coke Protein: 4 Tren Kesehatan Juni 2026 dan Ironi di Baliknya

Pernah nggak sih ngerasa, hidup sehat di 2026 tuh kayak lagi ikut lomba? Dari bangun tidur sampe mau tidur lagi, semuanya harus di-‘maxxing’. Tidur dimaxxing, protein dimaxxing, serat dimaxxing, bahkan soal BAB aja ada istilahnya. Generasi kita memang lagi demen banget sama kata ‘maxxing’ belakangan ini. Tapi di balik semangat ‘memaksimalkan’ segala hal, ada ironi besar yang jarang kita sadari: kita jadi sibuk ngurusin performa tubuh, sampe lupa kalo kesehatan sejati itu sebenernya simpel.

Gue penasaran, kenapa sih istilah ‘maxxing’ yang awalnya dari forum internet gelap bisa seviral ini? Dan kenapa kita sebagai anak muda susah banget lepas dari obsesi ‘memaksimalkan’ segala aspek hidup? Yuk, kita bedah empat tren yang lagi heboh bareng-bareng.


1. Poopmaxxing & Fibermaxxing: Ketika BAB Jadi Konten

Fenomena paling heboh Juni 2026 adalah poopmaxxing dan fibermaxxing. Ini tren di mana orang-orang berlomba-lomba mengoptimalkan kesehatan pencernaan dan frekuensi buang air besar (BAB). Influencer membagikan “poopmaxxer salads” dan rutinitas hariannya ke jutaan pengikut.

Sebenarnya Apa Sih Itu?

Poopmaxxing adalah istilah viral untuk menjaga BAB tetap rutin dan sehat. Fibermaxxing adalah ‘kendaraannya’—pola makan dengan fokus memperbanyak asupan serat dari sayuran, buah, biji-bijian, dan kacang-kacangan .

Videonya macem-macem: ada yang bikin smoothie tinggi serat dari kale, pisang, dan spirulina yang disebut “poop juice”, ada yang bikin salad “pelancar BAB” dengan jutaan tayangan, bahkan ada yang bawa bekal serat ke mana-mana .

Dua Sisi yang Berbeda

Sisi yang Baik:
Ini mungkin salah satu tren kesehatan paling berbasis sains yang pernah viral di TikTok. Ahli gizi menyebut fibermaxxing mengarah pada pola makan lebih sehat . Serat membantu memberi makan bakteri baik di usus, memengaruhi hormon, metabolisme, dan suasana hati . Konsumsi serat cukup juga dikaitkan dengan penurunan risiko diabetes tipe 2 dan penyakit jantung . Bahkan CEO Coca-Cola pun ikut mengamini bahwa serat akan menjadi tren besar di 2026, berpotensi menggantikan protein .

Sisi Ironisnya:
Di sinilah ironi muncul. Ahli gizi memperingatkan bahwa peningkatan serat secara drastis bisa bikin perut kembung, tidak nyaman, bahkan sembelit—ironisnya, itu adalah hal yang ingin dihindari . Orang dengan kondisi usus seperti IBS atau SIBO harus sangat berhati-hati . Belum lagi, kritikus menyebut tren ini adalah “class marker” lain—hanya orang dengan waktu, sumber daya, dan bandwidth mental yang cukup yang bisa mengoptimalkan proses biologis yang dilakukan orang lain tanpa berpikir panjang .

Ironi terbesarnya: Kita berusaha “memaksimalkan” fungsi tubuh yang sebenarnya sudah berjalan otomatis. Ini bukan lagi tentang kesehatan, tapi tentang performa dan validasi digital.


2. Diet Coke + Protein Shake: Viral Tapi Nggak Ada Dasarnya

Fenomena kedua yang nggak kalah heboh: mencampurkan bubuk protein ke dalam Diet Coke. Video gym-goers menuangkan scoop protein ke soda diet telah ditonton jutaan kali, dengan klaim lebih segar, mengenyangkan, dan bermanfaat untuk pemulihan otot serta penurunan berat badan .

Apa Kata Sains?

Menurut ahli gizi, belum ada bukti ilmiah yang mendukung klaim ini. Belum ada uji klinis kuat yang menunjukkan mencampurkan suplemen protein ke soda diet meningkatkan penyerapan protein, pemulihan otot, atau metabolisme .

Dari segi fisiologis, protein tetap dicerna di lambung dan usus halus dengan cara yang sama, baik dicampur air, susu, atau Diet Coke. Karbonasi dan pemanis buatan tidak membantu proses ini .

Bahaya Tersembunyi

Yang lebih mengkhawatirkan adalah efek sampingnya. Minuman berkarbonasi diketahui meningkatkan volume gas dalam lambung, yang dapat memicu kembung, sendawa, dan memperburuk gejala GERD. Saat bubuk protein ditambahkan ke minuman bersoda, pelepasan karbon dioksida menghasilkan busa besar dan meningkatkan volume lambung, menyebabkan mual atau gangguan pencernaan .

Ahli gizi mengingatkan banyak orang sudah mengonsumsi protein berlebihan tanpa menyadari kebutuhan tubuh, yang dalam jangka panjang dapat membebani ginjal . Tren ini menunjukkan bagaimana media sosial mempopulerkan praktik jauh lebih cepat daripada sains bisa mengevaluasinya .

Pelajaran: Hanya karena sesuatu viral, bukan berarti itu benar atau aman. Ini adalah “Diet Coke” dari tren kesehatan: manis di luar, kosong di dalam.


3. Sleepmaxxing: Tidur yang Jadi Proyek

Tren ketiga yang juga viral: sleepmaxxing—upaya mengoptimalkan kualitas dan durasi tidur melalui kombinasi rutinitas malam yang ketat, manipulasi lingkungan kamar, konsumsi suplemen, hingga teknologi pendukung .

Protokol Sleepmaxxing

Para pelaku sleepmaxxing biasanya membangun “stack” kebiasaan malam hari :

  • Kontrol Suhu dan Cahaya: Menjaga kamar tetap sejuk di suhu 16-18°C, tirai blackout, lampu hangat.
  • Konsumsi Suplemen: “Sleepy Girl Mocktail” (jus ceri + magnesium + soda prebiotik).
  • Sanitasi Digital: Matikan ponsel satu jam sebelum tidur.
  • Mouth Taping & Weighted Blanket: Menempelkan plester di mulut dan selimut berpemberat.

Sisi Gelap Sleepmaxxing

Para ahli memperingatkan agar tidak terobsesi berlebihan pada metrik tidur sempurna. Terlalu sering memeriksa data sleep tracker bisa memicu orthosomnia—kecemasan atau insomnia yang disebabkan oleh obsesi berlebihan untuk mendapatkan tidur “sempurna” . Metode ekstrem seperti mouth taping tanpa pengawasan dokter bisa berbahaya bagi penderita sleep apnea .

Padahal, kunci utama tidur berkualitas tetap pada konsistensi kebiasaan dasar, bukan pada tumpukan produk atau gadget mahal .


4. Looksmaxxing & Healthmaxxing: Ketika Tubuh Jadi Proyek

Fenomena keempat adalah yang paling “gelap.” Looksmaxxing dan Healthmaxxing mendorong orang—terutama pria muda—untuk secara agresif “mengoptimalkan” penampilan dan kesehatan fisik .

Dari Softmaxxing ke Hardmaxxing

Looksmaxxing terbagi menjadi :

  • Softmaxxing: Perubahan halus melalui perawatan, olahraga, dan gaya hidup.
  • Hardmaxxing: Metode ekstrem seperti operasi plastik, Botox, hingga “bone smashing” (memukul rahang dengan palu) yang dimulai sebagai lelucon online tapi dicoba sungguhan .

Healthmaxxing mencakup pembatasan makanan ekstrem, supplement stacking, hingga penggunaan steroid ilegal .

Dampak Psikologis Berbahaya

Para ahli memperingatkan ini bukan self-improvement—ini body dysmorphia yang didorong media sosial. Jason Fierstein, terapis dari Phoenix Men’s Counseling, menyebut looksmaxxing sebagai “social media-driven body dysmorphia trend” .

Orang yang terlibat sering didorong oleh perasaan tidak berharga, kesepian, dan keinginan memenuhi standar maskulinitas sempit . Christine Ruberti-Bruning, terapis dan spesialis gangguan makan, menekankan: “Tidak ada yang salah dengan ingin terlihat baik. Tapi perbedaan besarnya adalah looksmaxxing berakar pada kebencian terhadap diri sendiri dan berusaha menyesuaikan diri, dengan mengorbankan kesehatan dan keselamatan” .

Ironi terbesarnya: Kita berusaha “memperbaiki” diri dari luar, padahal masalahnya ada di dalam.


3 Kesalahan Saat Mengikuti Tren ‘Maxxing’

  1. Mengabaikan Konteks Tubuh Sendiri: Fibermaxxing mungkin bermanfaat tapi bencana bagi penderita IBS . Tren tidak pernah one-size-fits-all.
  2. Terjebak Obsesi Validasi Digital: Kita lebih peduli dengan “konten” daripada kesehatan. Poopmaxxing viral bukan karena kesehatan usus, tapi karena absurd dan bikin orang nge-scroll.
  3. Mengabaikan Nasihat Ahli: Para ahli sudah memperingatkan dampak negatif tren ini, tapi kita sering lebih percaya influencer daripada dokter .

Tips Keluar dari Jerat “Maxxing”

  1. Tanya “Mengapa” Sebelum “Bagaimana”: Apakah ini benar-benar saya butuhkan? Atau hanya karena saya melihatnya di FYP?
  2. Utamakan Konsistensi, Bukan Intensitas: Kunci kesehatan usus adalah konsistensi, bukan intensitas . Lebih baik perlahan dan berkelanjutan.
  3. Cari Sumber Terpercaya: Jangan percaya tren viral. Cari informasi dari ahli gizi atau institusi kesehatan resmi.
  4. Kurangi “FOMO” Kesehatan: Kamu tidak harus mengoptimalkan segala hal. Tidak apa-apa jika BAB-mu tidak “sempurna”.

Kesimpulan: Kembali ke Dasar, Jauh dari “Maxxing”

Jadi, apa yang sebenernya terjadi di balik tren-tren aneh ini? Poopmaxxing, Diet Coke protein, sleepmaxxing, looksmaxxing—semua adalah gejala dari satu hal: kita kehilangan koneksi dengan tubuh kita sendiri.

Kita terlalu sibuk “memaksimalkan” setiap aspek kehidupan, sampai lupa bahwa kesehatan sejati adalah tentang keseimbangan, bukan performa. Serat itu penting, tapi tidak perlu dibuat konten. Protein itu penting, tapi tidak perlu dicampur soda. Tidur itu penting, tapi tidak perlu dijadikan proyek yang bikin stres.

Seorang ahli gizi dari RBWH bahkan menyarankan konsep yang lebih sehat: “Balancemaxxing” —konsep di mana ketika kamu memaksimalkan satu hal, hal lain akan menderita . Jadi daripada sibuk memaksimalkan segala hal, mungkin kita perlu belajar memaknai apa yang sudah kita miliki.

Di 2026, mungkin yang paling berani adalah tidak ikut-ikutan. Bukan poopmaxxing atau looksmaxxing, tapi “chillmaxxing” —ketika kamu cukup percaya diri untuk berhenti mengoptimalkan segalanya dan mulai menikmati hidup apa adanya.